Ga Usah Muluk-muluk, Bisa Stress Lho…



Tuntutan-tuntutan dalam kehidupan sehari-hari yang semakin tinggi sering menjadikan sebuah beban tersendiri bagi kita dalam menjalani roda kehidupan yang semakin hari semakin komplek. Baik sebagai karyawan, pengusaha, pelajar sampai pada ibu-ibu rumah tangga yang semuanya merasakan betapa beratnya tekanan kehidupan karena tuntutan yang mau tidak mau semakin meningkat. Tekanan demi tekanan semakin lama dirasakan semakin menghimpit dan menjadikan psikologis dari setiap individu memberikan reaksi atas tekanan tersebut dalam bentuk stres yang tidak menyenangkan pada diri sendiri.
Stres yang muncul pada kehidupan yang tidak mampu di atasi dengan baik, selanjutnya akan memberikan pengaruh pada keseimbangan fungsi mental individual. Individu yang terkena stres ini biasanya akan mengalami ketegangan emosional, muncul perasaan tidak aman, tidak nyaman, terganggu keseimbangan antara kejiwaan dan, kadang, bisa merambah pada fisiknya, yang muncul pada berbagai keluhan fisik, semisal pusing, berpenampilan lelah, lemah, lesu dan tanpa semangat walaupun sebenarnya organ-organ fisiknya tanpa gangguan yang relevan, dan bahkan kadang merasa sulit untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan sosial dimana individu tersebut berada.
Individu yang mengalami stres ini, biasanya akan memberikan reaksi yang berakibat pada keadaan frustasi, adalah :
- Agresif : mudah marah, bahkan sampai mengamuk, dendam, kejengkelan yang berlanjut, menyerang orang lain, atau bahkan sampai pada melukai diri sendiri.
- Depresi : sedih, murung, menarik diri dari pergaulan, mengurung diri, tiba-tiba menjadi individu yang tertutup dan mendadak menjadi sosok individu yang pendiam.
- Apatis : acuh tak acuh dan tidak peduli terhadap lingkungan, tidak mengurus diri sendiri, tidak mengikuti aturan yang ada dan berlaku bagi sosial kemasyarakatan dimana individu tersebut berada.
- Regresif : bertingkah seperti anak kecil kembali, suka merengek-rengek seolah mengalami kemunduran dalam perkembangan jiwanya.
Saat kita mempunyai keinginan untuk meraih suatu tujuan dalam kehidupan kita, seharusnya kita memahami betul diri kita yang sebenarnya, yakni dengan mengintegrasikan emosi perasaan kita dengan nalar atau rasio secara optimal, syukur-syukur secara maksimal. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu :
- seberapa perlu kita memberikan reaksi emosional secara tidak terkendali, atau seberapa besar kendali kita terhadap emosi yang muncul saat itu;
- seberapa realistis sebenarnya keinginan kita itu;
- adakah alternatif untuk menuju keinginan kita;
- seberapa ‘urgent’ keinginan kita itu, bisakah kita menundanya untuk beberapa saat;
- bisakah dikompensasikan dengan hal yang lainnya.
Selanjutnya, sepertinya perlu juga sebuah penilian yang ditujukan kepada diri kita sendiri yang harus kita cermati dengan penuh kesadaran dan obyektifitas yang tinggi, yakni sebenarnya seberapa tinggi ambisi kita ? Sejauh mana potensi individual, intelektual, mental, kondisi dan sosial yang kita miliki sehingga dapat membuka kesempatan untuk tercapainya harapan kita tersebut ? Bukan hanya itu, perlu juga disini dipertanyakan sejauh mana semangat juang, komitmen dan ketekunan kita dalam berusaha meraih keinginan ataupun harapan tersebut ? sejauh mana perencanaan dalam penggunaan waktu dan realitas kita dalam efektifitas menggunakan waktu tersebut untuk meraih harapan yang kita idam-idamkan ?
Bisa jadi ambisi kita melebihi potensi yang ada dan melekat pada diri kita, bila ini terjadi, ada baiknya tujuan yang kita harap-harapkan itu disesuaikan dengan kenyataan potensi kita. Perlunya dilakukan ‘manage’ dan akomodasi potensi dan optimalkan pemanfaatan potensi yang ada.
Jika ambisi dan potensi berjalan seimbang, maka daya juang harus ditingkatkan dengan lebih maksimal lagi untuk mengupayakan berhasilnya harapan dan keinginan kita sampai tercapainya tujuan. Bagaimanapun, kita harus mempunyai komitmen untuk lebih konsentrasi lagi terhadap apa yang kita lakukan dan upayakan dengan lebih konsisten dan tidak akan berhenti sebelum tujuan tercapai.
Tentang penggunaan waktu, bagaimanapun kita harus disiplin dalam memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan seefektif mungkin dan tidak membuang-buang waktu percuma, juga tentunya kita harus mempunyai rencana yang baik terhadap waktu yang ada, termasuk di dalamnya sisa waktu yang ada, dengan tekun dan lagi-lagi konsentrasi penuh terhadap penggunaan waktu yang ada dan tidak mudah teralihkan, sampai pada tercapainya tujuan yang kita harap-harapkan.

Sekarang, bagaimana dengan kita sendiri ?

Silakan tinggalkan komentar Anda di bawah ini !!!

........................................................Advance Search by Google

.................................................persiapan kita di masa mendatang ??